Senin, 08 Oktober 2012

Tugas Tambahan 2 (Etika Profesi Akuntansi)

Nama : Vania Putri Rahmanto
NPM : 21209541
Kelas : 4EB13


Tugas Tambahan 2 :
Cari contoh etika di masyarakat dan tanggapi
Jawab :
Begini Kronologi Tawuran Siswa SMA 6 Versus SMA 70
TEMPO.CO, Jakarta - Tawuran antara siswa Sekolah Menengah Atas Negeri 6 dan SMAN 70 di bundaran Bulungan, Jakarta Selatan, Senin, 24 September 2012, menyebabkan seorang siswa SMA 6 tewas.
Menurut Kepala Reserse Kepolisian Resor Jakarta Selatan Ajun Komisaris Besar Hermawan, siswa SMA 70 menyerang lebih dulu ke siswa SMA 6. Siang pukul 12.00, kata dia, murid-murid SMA 6 baru keluar dari sekolah. "Mereka baru habis ujian," kata Hermawan, Senin, 24 September 2012.
Lima murid SMA 6 makan gultik alias gulai tikungan. Tiba-tiba mereka diserang oleh sekitar 20 siswa SMA 70. Tanpa adu mulut, mereka langsung menyerang. "Ada yang bawa arit," kata dia.
Kelima murid yang diserang kocar-kacir di kawasan bundaran Bulungan itu. Ada dua guru SMA 6 yang melihat kejadian tersebut dan membubarkan mereka.
Tawuran berlangsung singkat, sekitar 15 menit. Namun, tawuran ini menyebabkan dua korban terluka dan satu korban terkena luka bacok di bagian dada. Dia adalah Alawi, siswa kelas X SMA 6. Pelajar malang itu sempat dilarikan ke Rumah Sakit Muhammadiyah, tapi nyawanya tak tertolong. Sedangkan korban luka, satu luka di pelipis, satu lagi luka kecil di jari tangan.
Sebuah arit dengan noda darah, tertinggal di lokasi. Untuk mencocokkan darah di arit dengan darah korban, barang bukti itu dibawa ke laboratorium forensik Polri.
Menurut Hermawan, polisi sudah memeriksa satu guru SMA 70, dua guru SMA 6, dan dua saksi lainnya. Sekarang, polisi gabungan Polres dan Polsek masih mengawasi sekolah-sekolah itu untuk antisipasi peristiwa susulan.
Tawuran antara kedua siswa sekolah tersebut bukan hanya kali ini terjadi. Mereka saling serang secara bergantian. Sudah berulang kali mereka terlibat perkelahian. Kasus tawuran sebelumnya terjadi pada 26 Januari 2012 lalu, tapi saat itu tak ada korban tewas.

Tanggapan :
Menurut saya kasus tawuran SMA 6 dan SMA 70 menunjukkan cerminan sikap remaja yang tidak beretika. Hal itu di karenakan, tawuran itu seakan-akan sudah dijadikan budaya oleh kedua sekolah tersebut. Apakah itu yang dinamakan pelajar? Cenderung ke hal-hal kekerasan dan kriminal. Dengan demikian hal tersebut melanggar norma-norma etika yang berlaku di masyarakat. Tawuran menyebabkan kericuhan di jalanan yang biasanya di lewati oleh banyak kendaraan dan orang-orang, jika ada tawuran ya jalan jadi terblokir, sehingga sangat mengganggu kenyamanan masyarakat sekitar lokasi terjadinya tawuran. Selain itu dalam kasus tawuran tersebut terjadi pelanggaran HAM, dimana hanya karena masalah sepele yang jadi korban justru siswa yang tidak tau apa-apa yaitu Alawy. Alawy tidak tahu apa-apa tapi langsung kena bacokan, sungguh sangat tidak beretika tersangka pembacok Alawy tersebut karena dia menyebabkan hilangnya nyawa seseorang. Sebenarnya yang salah itu sistem pendidikan di kedua sekolah tersebut atau guru-gurunya yang kurang mendidik muridnya untuk beretika baik di masyarakat, padahal di SMA juga ada pelajaran PKN yang khusus membahas masalah budi pekerti dan etika. Ternyata pelajaran PKN tidak cukup untuk membangun moral murid – murid yang beretika. Tapi dibutuhkan suatu tindakan yang lebih tegas dari pihak kedua sekolah kepada murid – muridnya yang terlibat tawuran, terutama sanksi berat kepada yang terlibat tawuran sehingga mereka jera. Untuk ke depannya pihak sekolah harus mengadakan tindakan preventif seperti perbaikan psikologis murid – muridnya dan perbaikan etika murid – muridnya agar tidak terulang kembali kasus tawuran tersebut. Dapat di ambil kesimpulan bahwa kasus tawuran tersebut melanggar etika kesopanan dan etika budi pekerti yang ada di masyarakat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar